IKATAN PUSTAKAWAN INDONESIA
PENGURUS DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT-
Pustakawan, Perpustakaan dan Dunia Maya
Posted on Mei 29th, 2011 No comments“Kolaborasi membuat pustakawan terlihat nyata di dunia maya.” Begitu kira-kira pesan yang ingin disampaikan Puspa Yeow, President Library Association of Singapore (LAS) saat menutup seminar sehari bertajuk “Library for Tomorrow” pertengahan April 2011 di Singapura.
Dengan berkolaborasi, segala sesuatu menjadi aktual, global, serentak dan interaktif.
Di antara aplikasi yang mutlak dibutuhkan untuk menyongsong perpustakaan masa depan, maka elemen terpenting adalah kolaborasi. Kolaborasilah yang membuat pustakawan menjadi terlihat.
Kolaborari, mengutip CIFOR/PILI 2005, adalah bentuk kerjasama, interaksi dan kompromi beberapa elemen yang terkait individu, lembaga dan pihak-pihak yang terlibat secara langsung dan tidak langsung yang menerima akibat dan manfaat.
Nilai-nilai yang mendasari kolaborasi adalah kesamaan tujuan dan persepsi, kemauan berproses, saling memberi manfaat, kejujuran, kasih sayang dan berbasis masyarakat.
Dalam satu wawancara di Jakarta beberapa waktu lalu, Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) Harkrisyati Kamil, menyatakan sangat mendukung kolaborasi itu.
“Bagi saya kolaborasi sangat penting karena dengan melakukan segalanya bersama, gaungnya akan lebih terdengar dan mampu membentuk kekuatan dibandingkan dengan berjalan sendiri-sendiri,” kata mantan kepala Perpustakaan British Council Jakarta itu.
Harkrisyati melanjutkan, “Sama seperti halnya partai, apapun bendera yang diusungnya, saya pikir pustakawan perlu bersatu untuk meningkatkan kepustakawanan Indonesia.”
Ia menekankan bahwa kolaborasi tidak hanya sebatas wacana dan aksi sekejap yang kemudian hening, melainkan kolaborasi yang mampu memberikan sumbangan nyata kepada bangsa ini.
Harkrisyati yang lagi menjabat Ketua III Ikatan Sarjana Perpustakaan Indonesia (IPI) ini mengharapkan sosok pustakawan muda yang mampu mempelopori kolaborasi yang utuh dan murni tanpa agenda tersembunyi.
Dia tak memungkiri pesatnya perkembangan teknologi informasi yang disebutnya menjadi bagian penting pengelolaan perpustakaan, antara lain membantu memudahkan akses dan menjadi sarana berjejaring.
Senafas dengan Harkrisyati, pemerhati kepustakawanan Indonesia, Blasius Sudarsono menilai pustakawan memang seharusnya tampil di dunia virtual. “Bukan sekedar ada atau terlihat namun meng-ada,” sambungnya.
Menurut Blasius, dalam kolaborasi ada kesepakatan untuk memiliki sasaran yang sama dengan mengeluarkan kemampuan terbaik peserta walaupun mungkin para peserta memiliki tujuan sampingan (by product) yang berbeda.
Mantan kepala Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah – LIPI itu berpendapat, pustakawan Indonesia cenderung tampil solo. Kalaupun harus berkelompok, maka kelompoknya itulah yang tampil.
“Kadangkala kita cenderung menjadi pemain tunggal dan agak lemah untuk membuat tim dan rata-rata kita lebih gemar tampil di kandang sendiri dibanding merangkai kekuatan secara bersama-sama,” ujarnya.
Mengenai maraknya berbagai aplikasi perpustakaan, Blasius memandangnya perlu ditinjau ulang, karena perlu mempertimbangkan insentifnya (return) bagi kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia.
“Seringkali investasi yang besar tidak membawa return sesuai dengan harapan,” kata Blasius.
Budaya berbagi pengetahuan
Kolaborasi seperti dituturkan Puspa Yeow di atas tercipta lewat berbagai kegiatan yang mempertemukan pustakawan, profesional informasi, pengajar, pengelola pengetahuan (knowledge manager), pendidik perpustakaan (library educator), dan penyedia perpustakaan, demi menyongsong perpustakaan masa depan.
Dalam konteks itulah seminar perpustakaan masa depan yang diadakan LAS itu diselenggarkana. Praktisnya, seminar ini beupaya mengulang sukses kegiatan serupa dua tahun lalu yang menurut Yeow berhasil.
Kegiatan ini sendiri menjadi ajang pertemuan insan-insan perpustakaan dan secara bersamaan mencipta jejaring dengan para sponsor dan vendor.
Seminar di Singapura itu sendiri berhasil menggaet sponsor ProQuest, IGroup, LexisNexis, serta mendapat dukungan dari 3M dan Swets yang bergerak di lini bisnis jasa pengelolaan pelanggan dunia informasi.
Selain itu diramaikan juga oleh para peserta pameran terkenal, seperti ExLibris, Infogroup/Onesource, SirsiDynix, dan Wanfang Data.
320 peserta dari anggota asosiasi perpustakaan Singapura dan eksekutif informasi dari Australia, Malaysia, Indonesia dan beberapa negara di Asia lain turut menghadiri acara besar ini.
Seminar menghadirkan 10 materi besar dan menghadirkan 11 presentasi singkat berdurasi lima menit yang disebut dalam istilah “quickfire presentation”. Seluruh kegiatan terlihat terburu-buru dan tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi stand pameran.
Pada sesi keempat hadir pembicara dari Universitas Gajah Mada, Ida Fajar Priyanto. Bersama Lilik Kurniawati Uswah, dia melakukan penelitian “Going Green in Technical Services: a Study in Paperless Office Management.”
Materi-materi yang disampaikan narasumber terbagi menjadi empat tema besar, yakni mobile future (masa depan mobile), hunting and gathering in the e-library (pencarian dan pengumpulan data dalam perpustakaan digital), the future of digital repositories (masa depan repositori digital), dan quality improvement (peningkatan kualitas).
Seorang peserta dari Indonesia, Rini Utami Pramono, M.Si yang adalah Knowledge Management Manager dari Universitas Paramadina, menyampaikan penilaian menarik mengenai seminar itu.
Rini menyebut kegiatan semacam ini dapat membuka cakrawala wawasan dan patut ditiru. “Seminar ini membuka wawasan saya tentang beberapa aplikasi pelayanan dan database untuk perpustakaan,” katanya.
Magister Teknik Lingkungan, Universitas Indonesia, itu melihat perkembangan apliaksi terbaru patut dicermati karena semuanya bertujuan mengorganisasi pengetahuan dan mempermudah akses, kapan pun dan di mana pun.
“Bisa dibayangkan bila seluruh perpustakaan di dunia dapat berkolaborasi, tentu akan mudah bagi kita untuk melakukan sharing (berbagi) pengetahuan maupun untuk mendapatkan pengetahuan terkini dari seluruh belahan bumi,” kata Rini.
Rini melontarkan semacam otokritik tentang masalah kolaborasi di Indonesia. Dia menilai budaya berbagi pengetahuan di dalam negeri harus dikuatkan terlebih dahulu, karena Indonesia masih terlihat individual.
“Tapi saya optimistis saat ini sudah banyak lembaga yang memahami betapa pengetahuan adalah asset yang paling berharga, Universitas Paramadina sudah memulainya,” demikian Rini setengah berpromosi.(*)
Penulis : Dyah Sulistyorini
Editor : Jafar M Sidik
Sumber: http://www.antaranews.com/berita/255366/membuat-pustakawan-nyata-di-dunia-virtualTak Berkategori -
Kongres Pustakawan Se-Asia Tenggara (Consal)
Posted on Mei 28th, 2011 No comments
Insan Pustakawan Indonesia, kembali akan menggelar hajatan akbar bidang kepustakawanan, sebagai tuan rumah rumah Kongres Pustakawan se-Asia Tenggara (CONSAL) yang akan diadakan di Denpasar, Bali pada 28 Mei 2012.Untuk mematangkan hajatan tersebut, Perpustakaan Nasional RI kembali melaksanakan pertemuan kedua Executive Board (EB) sejumlah anggota Congress of Southeast Asian Librarians (Consal) atau pertemuan para Kepala Perpustakaan, Ikatan atau Asosiasi pustakawan se-Asia Tenggara mulai tanggal 19-22 April 2011 di Medan, Sumatera Utara. Delegasi Indonesia atau EB Indonesia dipimpin langsung Kepala Perpusnas Hj. Sri Sularsih didampingi Wakil Ketua Umum Ikatan Pustakawan Indonesia (PP-IPI) Zulfikar Zen dan Sekjen PP-IPI Bambang Supriyo Utomo. Acara yang berlangsung di Hotel JW Marriott Medan itu dihadiri perwakilan dari 10 negara Asean diantaranya Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Malaysia, Thailand, Myanmar, Philipina, Singapura, Vietnam dan salah satu negara peninjau dari Timor Leste.
Menurut Kepala Perpusnas setiap tiga tahun sekali Consal mengadakan General Conference secara bergiliran. Indonesia sudah pernah menjadi tuan rumah penyelenggara, yakni pada tahun 1976 di Bandung dan di Jakarta pada 1990 dibuka oleh Presiden RI. Untuk General Congress Consal ke-3 mendatang, juga akan diadakan di Indonesia, tepatnya di Bali pada Mei 2011. Rencananya kongres itu akan dibuka Presiden RI dan diperkirakan sekitar lima ratus sampai seribu orang pustakawan akan hadir di sana pada acara puncaknya. ”Jadi, kunjungan kami ke Medan, Indonesia sebagai bentuk persiapan menjelang General Congress Consal ke-15 di Bali pada Mei 2012,” ungkapnya.
Tema yang akan diusung pada General Conference Consal di Bali yakni ‘Warisan Nasional, Pemeliharaan dan Penyebaran”. ”Banyak budaya lokal, foklor dan literatur lama yang tersimpan. Ini harus diangkat dan diberdayakan untuk kekayaan budaya bangsa,” katanya. Sedangkan menurut Wakil Ketua Umum PP-IPI Zulfikar Zen, setiap tahun Consal mengadakan pertemuan dewan eksekutif. Meeting pertama sudah dilaksanakan pada 2010 lalu di Hotel Jayakarta Bandung Jawa Barat, dan pertemuan kedua ini di Medan. Zulfikar Zen yang juga dosen di Departemen Ilmu Perpustakaan & Informasi Universitas Indonesia menjelaskan, Consal didirikan pada tahun 1970 di Singapura dengan tujuan untuk menjalin kerjsama antara pustakawan se-Asia Tenggara. Keanggotaan Consal yang disebut dewan eksekutif Consal dari tiap negara terdiri dari 3 orang. Di Indonesia mencangkup jabatan Kepala Perpustakaan Nasional, Ketua Umum dan Sekjen IPI.
Sementara Sekretaris Utama Perpusnas Dedi Junaedi juga menuturkan bahwa General Conference Consal ke-14 dilaksanakan di Vietnam, dan yang ke-13 di Manila sebagai tuan rumah. Dedi Junaedi menambahkan, General Conference Consal ke-15 nanti merupakan tanggungjawab negara Indonesia. ”Kepercayaan diberikan kepada kita sebagai negara penyelenggara General Conference Consal ini kita siapkan semaksimal mungkin demi suksesnya perpustakaan nasional dan ikatan pustakawan Indonesia,” ujarnya.
Narasumber yang hadir pada pertemuan akbar Consal di Bali 2012 mendatang bukan saja dari kalangan anggota Consal, namun juga ada ‘invited speaker’ dari Amerika dan negara Eropa. “Kami berharap dengan adanya pertemuan seperti ini akan berdampak positif pada masyarakat dan memberi kompetensi pustakawan yang ingin menumbuhkembangkan minat baca di Indonesia yang masih rendah,” katanya.
Peserta EB Consal setelah mengadakan pertemuan khusus yang membahas persiapan akhir consal xv di Bali, berkesempatan mengunjungi Danau Toba dan Pulau Samosir, kemudian dihari berikutnya juga mengunjungi Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Sumatera Utara, Istana Maimun, Museum Satwa Rahmat Syah, dan Perpustakaan Universitas Sumatera Utara.
Sementara itu Kepala Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Sumatera Utara Nurdin Pane berharap kunjungan dari Executive Board Consal bisa dijadikan kunjungan budaya. Kegiatan seperti itu juga diharapkannya dapat menambah motivasi perpustakaan Sumut untuk lebih baik lagi ke depannya. Dia juga menyatakan siap menyukseskan General Conference Consal ke-15 pada Mei 2012 di Bali. “Para peserta akan berbagi pengetahuan maupun pengalaman mengenai sistem perpustakaan di negara lain,” katanya.
Nurdin menjelaskan ketika EB Consal mengunjungi Badan Perpustakaan Sumatera Utara, banyak peserta yang ingin mengetahui koleksi kuno dan layanan masyarakat tentang isi yang terdapat di perpustakaan Sumut, dan mereka juga kagum akan koleksi perpustakaan digital yang memiliki 1000 judul dan 16 ribu entri yang dapat diakses dimana pun. Nurdin Pane juga menambahkan, dengan adanya pertemuan ini dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan khususnya motivasi bagi para pustakawan Sumut untuk berkembang lebih baik lagi kedepannya.***
sumber: agus sutoyo (http://www.pnri.go.id)
Tak Berkategori -
Manuskrip Koleksi Gus Dur Diserahkan ke Perpunas
Posted on Januari 6th, 2011 3 comments
Gus Dur
JAKARTA- sebanyak 67 manuskrip berharga yang dikumpulkan almarhum Abdurrahman Wahid aliar Gus Dur dari sejumlah pesantren di serahkan ke Perpustakaan nasional.”Ini merupakan kumpulan manuskrip Gus Dur, yang dilakukan sejak tahun 1993, jauh hari sebelum beliau menjadi Presiden RI,” kata Peneliti Filologi Oman Fathurachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (20/5).
Menurut Oman, selanjutnya kumpulan manuskrip Gus Dur itu akan ditandai dengan kode AW di perpustakaan Nasional. “Kini, manuskrip tersebut sudah menjadi salah satu koleksi yang ke 18 naskah perpusnas yang ditulis dalam berbagai ragam polisi,” ujar Oman yang juga Ketua Umum masyarakat Pernaskahan Nasional.
Oman menuturkan, apa yang telah dilakukan Mantan Ketua Umum PBNU tersebut didasarkan atas sebuah kesadaran dan harapan agar naskah tersebut dilestarikan dan kandungannya dapat diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia. “Bisa saja Gus Dur menyimpan manuskrip-manuskrip
itu dikantornya tapi tak dilakukannya,” kata Oman.Semangat untuk melestarikan naskah-naskah kuno dan benda-benda bersejarah pada saat ini masih perlu ditingkatkan. Pasalnya, dirinya berkeyakinan bahwa naskah dan artefak budaya lainnya merupakan salah satu pembentuk citra dan identitas cultural bangsa.
Dalam masa sekarang, teknologi internet dan dunia digital merupakan salah satu cara lain untuk menyebarkan manuskrip-manuskrip tersebut. “Bayangkan kalau setiap pesantren misalnya mempunyai daftar koleksi manuskrip yang dapat diakses. Tentu itu akan bisa lebih berguna lagi,” terangnya (wdi/jpnn)
Sumber:
http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=64295Tak Berkategori -
Atpusi Kalbar Selenggarakan Rakerda dan Pelatihan Perpustakaan
Posted on Desember 21st, 2010 3 commentsRakerda ATPUSI Kalbar 2010
Belum genap satu tahun, sejak terbentuknya Pengurus Daerah Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) Kalbar, 19 Mei 2010 di Pontianak, kini ATPUSI Kalbar menggelar Rakerda dan Pelatihan Tenaga Perpustakaan. Rakerda dan pelatihan rencananya akan dilaksanakan selama dua hari, mulai Selasa 21 s.d. Rabu 22 Desember 2010 di Wisma Dekopin Kalbar, Jalan Letjen Sutoyo Pontianak.
Rakerda dibuka oleh Kepala Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi Provinsi Kalbar, Drs. Marselinus Kutjai Apin. Dalam sambutannya, Marselinus mengaharapkan agar ATPUSI sebagai asosiasi profesi, menempati garda paling depan dalam memberdayakan dan mengembangkan perpustakaan sekolah terutama dalam menunjang minat dan kebiasaan membaca di kalangan para peserta didik dan warga sekolah lainnya.
Para ahli pendidikan meyakini, bahwa perpustakaan sekolah memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan keberhasilan proses belajar-mengajar, karena itu perpustakaan sekolah sering diistilahkan sebagai jantungnya pendidikan. Agar jantung tersebut berfungsi sebagaimana mestinya, maka perlu dikelola, dipelihara, dan dikembangkan sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku. Sayang perpustakaan sekolah kurang mendapat perhatian dan kurang didayagunakan untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca. Padahal membaca dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan. Kegiatan membaca, belum banyak dilakukan, khususnya oleh anak-anak dan remaja. Hal ini menjadi keprihatinan banyak pihak, baik itu pendidik, orangtua maupun pemerintah.
Menurut Marselinus, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, melalui Badan Perpustakaan, Kearsipan dan Dokumentasi, menyadari sepenuhnya, bahwa pembudayaan kegemaran membaca di masyarakat perlu digalakan baik di lingkungan keluarga, masyarakat, serta satuan pendidikan sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, pasal 48 ayat 1, bahwa ”pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat.” untuk itu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat pada tanggal 28 oktober 2010 lalu, telah mencanangkan ”gerkakan kalimantan barat membaca (KABACA).” Gerakan Kalbar membaca diharapkan didukung oleh semua pihak, termasuk para tenaga perpustakaan sekolah yang tergabung dalam ATPUSI. Oleh karena itu, melalui rakerda ini, mudah-mudahan dapat dirumuskan suatu formulasi mengembangkan minat dan kebiasaan membaca di lingkungan satuan pendidikan melalui pemberdayaan perpustakaan sekolah.
Tak Berkategori -
Kalender Pariwisata Kalimantan Barat 2011
Posted on Desember 16th, 2010 5 comments
Visit Kalbar 2010
Ada even apa saja di Kalimantan Barat tahun 2011? Berikut ini event calendar 2011 dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat.
Januari 2011
- Bird Waching Festival. Ketapang, 2-28 Januari 2011. Sensus burung Asis Fasipik, dilaksanakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ketapang dengan lima negara di kawasan Asia Pasifik untuk meneliti berbagai jenis burung di Kabupaten Ketapang. Even ini dapat disaksikan setiap tahun pada tanggal 2-28 Januari. Read the rest of this entry »
Tak Berkategori




